Carilah pengetahuan seluas-luasnya sampai kamu tidak tahu seluas apa pengetahuanmu

Tampilkan postingan dengan label adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2016

5 Suku di Indonesia ini tetap mempertahankan budaya leluhur mereka




5 Suku di Indonesia ini tetap mempertahankan budaya leluhur mereka
gambar via Beritasatu.com

Peradaban Manusia terus berubah seiring dengan kemajuan zaman dan kebutuhan hidup yang dinamis. Peralatan canggih dan teknologi yang mutahir satu demi satu ditemukan guna memenuhi kebutuhan manusia yang tidak pernah puas dan  cenderung serakah.

Share:

Sabtu, 19 November 2016

Tradisi Kawin Culik Suku Sasak di Lombok



Gambar ilustrasi via wisatalombok.com


Pernikahan adalah salah satu ritual dalam siklus kehidupan yang sangat dinantikan oleh para kaula muda. Dengan berbagai ritual adat masyarakat  yang melengkapi perayaan tersebut, terdapat banyak sekali makna yang tersirat yang berguna bagi kedua mempelai.

Dari berbagai adat pernikahan di seluruh wilayah Nusantara yang sangat beragam tersebut, ada satu tradisi unik yang berasal dari masyarakat suku sasak di Lombok. “Kawin Culik”, Mungkin ini adalah satu-satunya penculikan yang di legalkan di dunia.

Share:

Senin, 31 Oktober 2016

Rahasia dibalik selamatan 3,7,40, 100, sampai 1000 hari setelah orang meninggal

artikel-senior.blogspot.co.id

Sudah menjadi kebiasaan bagi muslim bahwa setelah seseorang telah dimakamkan, maka pada malam harinya banyak orang yang berkumpul untuk tahlilan ataupun sekedar menghibur bagi keluarga yang ditinggalkan. Bahasa agama menyebutnya “takziyah”. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan akan mengadakan acara slametan  

Slametan diserap dari bahasa arab Salamah  yang mempunyai arti selamat atau damai. Pada dasarnya tujuan slametan adalah sedekahan dengan harapan dijauhkan dari hal-hal yang membahayakan baik untuk keluarga yang ditinggalkan ataupun bagi ahli kubur itu sendiri.

Biasanya mereka yang berkumpul akan mendoakan ahli kubur dengan membaca surat Yasin dan bacaan tahlil. Pada daerah tertentu seperti tempat kelahiran penulis, Brebes dan sekitarnya, Yasinan dan tahlilan dilaksanakan sampai tujuh hari.

Pada tiga hari pertama biasanya warga yang slametan dikasih brekat (makanan beserta lauk pauk yang biasanya ditempatkan di ember atau bakul kecil, namun pada masa kekinian modelnya berubah bukan lagi makanan mateng melainkan bahan-bahan pokok makanan yang masih mentah). Begitu pula ketika pada waktu tujuh hari, warga yang slametan mendapat brekat namun porsinya lebih banyak dari sebelumnya.

Pelaksanaan slametan biasanya berlanjut sampai pada hari ke 40 (matang puluh), pada hari ke 100 (nyatus), pada hari peringatan genap tahun pertama (mendak pisan), pada peringatan genap tahun kedua (mendak pindo), pada peringatan genap tahun ke tiga (mendak ping telu) atau slametan terahir yang menandai telah 1000 hari. Biasanya dengan disertai ritual mengganti batu nisan.

Baca juga : Pengertian Slametan dan ragamnya dalam adat jawa

Banyak ahli sejarah yang mengaitkan pelaksanaan slametan peringatan tersebut dengan proses pembusukan tubuh yang mati sebelum pada ahirnya melebur dengan tanah. Dalam kondisi normal, proses peleburan jasad manusia berlangsung dalam tujuh tahap.

Rahasia dibalik selamatan 3, 7, 40, 100 sampai 1000 hari setelah orang meninggal adalah sebagai berikut :

Tahap pertama adalah tiga hari setelah jasad dimakamkan ketika diyakini jasad mulai membengkak.

 Tahap kedua adalah hari ketujuh, ketika pembengkakan menuju puncaknya dan ahirnya meletus. Setelah itu daging hancur, terurai dan kemudian membusuk.

Setelah 40 hari yaitu tahap ke tiga, proses pembusukan ini diikuti dengan pergerakan tubuh secara perlahan namun pasti, Kepala perlahan mulai tegak seperti halnya lutut. Sementara pada hari ke-100 yang menjadi tahap ke empat tubuh yang membusuk berubah menjadi seperti orang duduk tegak dengan lutut tertekuk keatas.

Pada tahap ke lima atau setahun setelah kematian, lambat laun kepala akan mencapai lutut. Setahun kemudian atau tahap ke enam, setelah semua daging sudah hancur tak tersisa, kaki jenazah akan tertekuk sampai kebawah pantat, sedangkan kepala menyatu dengan lutut. 

Ahirnya pada tahap ketujuh waktu tahun ke tiga atau 1000 hari, semua tulang akan terkumpul bersama sebelum kemudian ahirnya melebur dengan tanah.

Jika diamati gerakan tulang dalam proses pembusukan ini akan sama dengan gerakan pertumbuhan jabang bayi dalam alam kandungan namun dengan arah yang terbalik. Pada ilmu sufi yang bersumber dari tarekat syathoriyah ini ( berasal dari lingkungan kasepuhan Cirebon), proses ini mengandung arti mistis, sehingga dalam setiap proses layak untuk diperhatikan dan atas alasan inilah mengapa slametan perlu dilaksanakan.


Nah, begitulah Rahasia dibalik selamatan setelah orang meninggal, kiranya adat para leluhur kita yang sangat kaya akan ilmu pengetahuan yang jauh melampaui akal pemikiran orang zaman modern. Semua dilandasi oleh ilmu ilahiyah yang sangat jarang dimiliki manusia pada umumnya. Jadi bersyukurlah dan jangan malu untuk tetap melestarikan ajaran leluhur.


* Diolah dari berbagai sumber
Share:

Sabtu, 08 Oktober 2016

Mengenal Slametan



Slametan adalah tradisi yang dilakukan kebanyakan orang di pulau Jawa  sebagai ungkapan rasa syukur terhadap nikmat yang yang telah diterima. Terkadang juga ada yang dilakukan guna menangkal timbulnya perkara yang buruk. Slametan sangat identik dengan perayaan siklus kehidupan.

Slametan sangat populer disemua kalangan, baik yang taat beragama maupun tidak (abangan), yang berpangkat maupun rakyat jelata, baik kaya maupun miskin. Masyarakat umumnya menganggap bahwa kehidupan berkembang melalui tahapan-tahapan dari sebelum kelahiran sampai sesudah kematian. Semua tahapan dianggap penting karena merupakan hal yang sensitif. Karena semua tahap diluar kendali kekuasaan manusia, maka disarankanlah slametan dengan harapan semua berjalan lancar atau untuk merayakan setelah berhasil dalam melewati suatu tahap.

Slametan diserap dari bahasa arab Salamah  yang mempunyai arti selamat atau damai. Pada dasarnya tujuan slametan adalah sedekahan, dalam hal-hal tertentu diartikan doa. Jadi pada dasarnya tradisi ini sangat islami, karena islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa bersedekah dan berdoa, baik ketika akan menghadapi hal penting ataupun guna menangkal suatu musibah.

Seorang antropolog Clifford Geertz (1960) berpendapat agama penduduk jawa adalah islam dengan pemikiran yang mengadopsi perpaduan antara Hindu-Budha-Animisme. Slametan adalah kegiatan utama Ulama Abangan. Dirinya berpendapat slametan adaalah refleksi dari perpaduan antara Hindu-Budha-Animisme dalam Islam Jawa.

Slametan pada prakteknya terbagi menjadi beberapa macam ritual dengan nama yang berbeda namun tetap saja satu makna. Berikut ini adalah beberapa jenis slametan :

KEHAMILAN


Ketika slametan dilakukan dalam acara yang berhubungan dengan proses kehamilan misalnya, ada yang dinamakan slametan tebus weteng/tingkeban, adalah slametan yang diadakan ketika bayi berumur tujuh bulan dalam kandungan. Pada tahap ini diyakini bayi sudah dalam wujud sempurna dengan segala organ tubuhnya, juga bersih dari noda dan dosa. Dalam kondisi ini orangtua berharap agar semua proses persalinan berjalan lancar.

Setelah bayi lahir kemudian ada yang dinamakan bancakan yaitu slametan kecil-kecilan dengan nasi dan lauk seadanya kemudian dibagikan kepada tetangga terdekat untuk memberi tahu bahwa bayi baru saja lahir.

Setelah beberapa hari kemudian diadakan puputan dalam artian tali pusar sudah terlepas. Dalam tahap ini biasanya diadakan slametan pemberian nama bagi bayi, bagi yang mampu biasanya dibarengi dengan upacara akikahan.

Dewasa ini acara slametan puputan biasanya di selingi dengan pembacaan Maulid Nabi atau semacam Marhabanan. Ketika hadirin melantunkan Marhaban sambil berdiri, sang ayah atau biasanya kakek sang bayi membawa bayi berkeliling dalam majelis itu dan satu persatu menempelkan minyak wangi pada alis sang bayi.

KHITANAN /KAWINAN

Slametan dalam tahap ini biasa disebut dengan Walimahan. Walimahan sendiri diadopsi dari anjuran Syari’at dengan tujuan mengabarkan bahwa sifulan sudah dikhitan atau sifulan sudah menikah. Biasanya dilaksanakan setelah anak sudah di khitan atau kedua mempelai pengantin sudah melakukan ijab Kabul.

SETELAH KEMATIAN

Prosesi slametan pada tahap ini bisa dibilang lebih banyak dari pada tahap lainnya. Karena dalam tahap ini nanti ada yang dinamakan Nelung dina (tiga hari), Mitungdina (tujuh hari), Nyatus (seratus hari), Mendak pisan (setahun pertama), Mendak Pindo (setahun kedua), Mendak ping Telu (setahun ketiga). Kalau semua proses itu sudah dilaksanakan maka dianggap upacara telah sempurna.


Share:

Total Tayangan Halaman

Arsip blog

Diberdayakan oleh Blogger.