Carilah pengetahuan seluas-luasnya sampai kamu tidak tahu seluas apa pengetahuanmu

Tampilkan postingan dengan label definisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label definisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2016

Ikhlas terbalut Nafsu



ikhlas terbalut nafsu



“perbedaan antara ikhlas dan nafsu hanyalah setebal kulit bawang, karena itu pahamilah betul apakah ikhlas yang kau raih ataukah nafsu yang kau rengkuh “ tutup mas Muji

Senja telah berlalu menutup hari itu dengan rona memerah layaknya pipi gadis yang menatap malu dibalik tirai. Adzan maghrib saling bersahut-sahutan laksana simfoni alam yang menenangkan gelisahnya hati.
Sehabis sholat maghrib saya langsung ngacir ke tempat mas muji, ngopi bareng sambil curhat-curhatan seperti biasanya. Cuaca  sore itu memang cukup bersahabat untuk ngopi-ngopi setelah seharian bergelut dengan endhut di sawah.

Share:

Fatamorgana Nikmat Surgawi



Fatamorgana Nikmat Surgawi
Gambar Ilustrasi


“ aku melayang di awan  mengikuti irama angin berhembus, melayang-layang laksana  sejimpit kapas tipis yang menembus awan dan mengarungi samudra biru. Lama nian aku terkesima dengan guratan-guratan lukisan sang pencipta yang tak pernah sirna. Nun jauh disana ada pemandangan elok yang melambai, dan saat itu pula aku menghampiri. Ku lihat hamparan padang yang hijau dan menawan, diwarnai oleh bunga-bunga yang berkembang nan wangi yang semerbak. Gemercik air mengalun seperti kericing gelang kaki putri yang sedang menari.  

Share:

Jumat, 04 November 2016

10 Kosakata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan



10 Kosakata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan
wikiwand.com


Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentu kita harus mencintai bahasa Indonesia seperti kita mencintai tanah air ini.

Namun setelah 88 tahun berlalu sejak bahasa indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan, ternyata masih banyak kosakata yang ternyata jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. 

Langsung cek aja deh.. 10 Kosakata dalam bahasa Indonesia yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.



1. Jenat

Bisa dikatakan kosakata ini jarang sekali digunakan, disalah satu kampung di Brebes bahasa ini memang digunakan dengan arti yang sama tapi kosakata ini dianggap sebagai bahasa asli daerah warisan leluhur.



2. Nyenyat


Kalau dikampung biasanya yang di pakai adalah “Nyenyet” dengan makna yang sama yaitu sepi, hening. Namun dalam penggunaannya kata ini selalu di awali dengan kata “sepi”.


3. Semenjana

Semenjana dalam KBBI diartikan, “menengah, sedang”, namun arti bisa menyesuaikan dengan kalimat yang menyusunnya.

Seperti “ Wajah tunanganmu semenjana yah…?”, semenjana dalam kalimat tersebut diartikan “sedang-sedang saja”.

BACA JUGA :


4. Senandika

Seperti monolog tapi di dalam hati, seperti contoh dalam film ketika sang aktor yang sedang mengungkapkan perasaan atau konflik yang terjadi dalam batinnya supaya pemirsa lebih mengetahui jalan cerita.


5. Renjana

Dalam KBBI Renjana di artikan perasaan kuat dalam hati yang bisa berupa rasa rindu, cinta, nafsu dan sebagainya. Namun bisa juga di artikan seperti “Passion” atau minat yang kuat terhadap suatu hal.


6. Sigi

Dalam bentuk kata benda makna Sigi berarti “obor dari bilah-bilah bambu”, sedangkan untuk kata kerja bisa berarti “menyelidiki dengan teliti”.


7. Racau

Seperti orang kesurupan yang ngomong ngga jelas, bisa juga seperti pada anak-anak yang sedang demam tinggi sehingga berkata yang tidak jelas. 


8. Terungku

Biasanya untuk padanan kata “penjara”, kata bui atau hotel prodeo lebih sering digunakan dari pada kata “terungku”.

Dan pasti sobat juga baru denger kan?



9. Syak

Bisa jadi kata ini dasadur dari bahasa arab “Syaki” yang berarti “ragu-ragu”.  Biasanya kata “syak” dalam penggunaannya di sandingkan dengan kata “wasangka”.



10. Masygul

Kata ini juga barangkali saduran dari bahasa arab “Masyghulun” yang bisa berarti “sibuk”, tapi kok artinya jadi bersedih hati gitu yah?

Nah, gimana sobat tonapedia sudah tahukan sekarang….
Semoga bisa menambah kosakata sobat dalam menulis artikel maupun syair yah, tapi jangan sampai sair berdarah kaya Arya Dwipangga, hehehe


Share:

Selasa, 01 November 2016

Pergeseran makna kasta "SUDRA"

Kaum Sudra
PIXABAY

Dalam perkembangan sejarah babat tanah jawa, banyak kajian  yang mengungkap bahwa masyarakat tanah Jawa tempo dulu menerapkan sistem kasta atau golongan yang membedakan tingkat atau pangkat dalam tatanan sosial budaya pada masa itu.

Kasta sendiri berasal dari bahasa Spanyol dan Portugis “casta” yang artinya adalah pembagian masyarakat. Kasta sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu. Kasta  diterapkan pada masa kerajaan Hindu Nusantara. wikipedia

Khusus untuk kasta Sudra, banyak penjelasan yang menyebut bahwa kasta ini adalah kasta paling rendah yang bertugas untuk menjadi pelayan bagi ketiga kasta di atasnya yaitu Brahmana, Ksatria, dan Waisya.
Budayawan NU, AGUS SUNYOTO
flickr.com


Namun menurut sejarawan NU, KH. Agus Sunyoto, makna kasta sudra pada zaman walisongo agak berbeda dari penjelasan kebanyakan. Pada zaman Walisongo terdapat tujuh struktur golongan masyarakat yang ditetapkan secara unik. Golongan tersebut di ukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi. Makin kuat keterikatannya, makin rendah golongannya, dan sebaliknya golongan yang tidak memiliki keterikatan dengan dunia menjadi golongan yang paling tinggi derajatnya.

Pertama, adalah golongan Brahmana. Mereka biasanya tinggal di hutan, di pertapaan, dan tidak punya kekayaan pribadi. Nah, mereka ini menemati kasta paling tinggi.
Pada golongan ini adalah para pemuka agama atau orang suci lainnya.

Kedua, adalah golongan Ksatria. Golongan ini tidak di perbolehkan memiliki kekayaan pribadi namun hidupnya di jamin oleh Negara. Yang termasuk dalam golongan ini adalah para kepala dan anggota pemerintahan seperti raja, pati, tumenggung dan sebagainya.

Jadi bisa dikatakan peradaban zaman walisongo sudah cukup maju karena para anggota pemerintahan dilarang memperkaya diri sendiri.

Ketiga, golongan Waisya. Itu adalah golongan para petani, mereka memiliki tugas menumbuhkan tanaman makanan untuk manusia. “Dia lebih rendah golongannya kenapa?  Karena sudah punya rumah, sawah dan ternak,” ujar KH. Agus Sunyoto

Keempat, golongan sudra. Siapa mereka? Menurut kitab Salokantara dan Nawanadya, yang dimaksud dengan sudra ada beberapa kalangan :
  1. Saudagar, orang yang memiliki kekayaan berlebih. Pikirannya selalu tentang untung rugi.
  2. Rentenir, orang yang meminjamkan uang dengan mendapat imbalan bunga
  3. Orang yang meminjamkan perhiasan, pakaian termasuk juga tuan tanah dan pemilik aneka kekayaan lainnya.
BACA JUGA :

Kelima, golongan Candala. Golongan ini adalah orang yang hidup dari pekerjaan berupa membunuh mahluk lain. Tukang jagal, pemburu, masuk dalam golongan ini. Termasuk aparat Negara yang bergelar Singanegara dan Singamenggala yaitu para algojo yang membunuh pelanggar hukum pun masuk dalam golongan ini.

Keenam, golongan Mleca. Golongan ini adalah orang asing yang bukan pribumi atau saudagar. Mungkin hal itulah yang membuat islam tidak mudah diterima sebelum zaman Walisongo, “karena yang membawa kesini adalah orang asing dan  saudagar yang sudra. Rangkep sudah, jadi warga pribumi belum mau menerima,” tandasnya

Ketujuh, golongan Tuja. Golongan ini adalah seseorang yang hidupnya selalu merugikan masyarakat. Para penipu, maling, rampok dan sejenisnya masuk dalam golongan ini.

Walisongo adalah Brahmana

Menurut KH. Agus Sunyoto, para Walisongo menempati kasta tertinggi yaitu posisi Brahmana. Para sunan tersebut dianggap sebagai orang suci, oleh karena itu masyarakat mudah untuk menerima ajaran Islam waktu itu. Pendapat ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa Islam disebarkan oleh para saudagar, karena saudagar termasuk dalam golongan Sudra.

Orang Sudra tidak memiliki otoritas apapun dalam berbicara masalah agama, jelas KH. Agus Sunyoto. Karena ada aturan yang disepakati masyarakat waktu itu bahwa yang berhak berbicara tentang agama hanyalah Brahmana.

Hal itu masuk akal juga, sebab jika yang berbicara kaum Sudra yang selalu memikirkan untung dan rugi, nanti agama bisa jadi komoditas dagangan, hehehe

Menurutnya, jika ditarik ke era modern seperti sekarang ini, kyai termasuk dalam golongan Brahmana. Bahkan pada zaman Majapahit sudah ada gelar tersebut, hingga zaman Mataram orang yang tidak bergelar kyai tidak boleh mengajar.

Namun, fakta di lapangan pada zaman sekarang ini apakah karena terlalu majunya teknologi atau apalah, sehingga banyak orang yang menganggap dirinya lebih berkompeten berbicara masalah agama sehingga kadang hanya bermodalkan copy paste sudah gampang menyalahkan pendapat orang lain. Naudzu billahi min dzalik


Sumber: NU Onlen


Share:

Minggu, 30 Oktober 2016

7 Anggapan yang Salah Kaprah dalam penulisan kosakata

Kemarin baru saja diperingati Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. setelah bertahun-tahun kita memperingatinya, apakah kita sudah benar-benar mengamalkan dan mempergunakan bahasa Indonesia dengan benar?

Yap... banyak penulisan  kosakata dalam bahasa Indonesia yang selama ini kita anggap benar, ternyata oh ternyata sesuai KBBI itu salah dan hal itu seringkali kita abaikan lho...

Berikut ini adalah 7 anggapan yang salah kaprah dalam penulisan kosakata bahasa Indonesia


1. Coklat.
Serius... kalau nulis cokelat ? kalau mimin sih coklat ajah soalnya kalau ada "e"nya kelamaan...

2. Kaos
hayyo... dijual kaus kaki...  kaus oblong... hehehe rasanya aneh yah...

3. Silahkan
yang ini apa lagi, kayaknya udah sreg banget tuh pake kata " Silahkan ", Silakan duduk mas..?
4. Terlanjur
bagi yang sudah terlanjur eh.. telanjur sakit hati... hehehehe
5. Terlantar
emang sih, yang bener telantar. soalnya kalau mendapat tambahan me-kan akan menjadi me-nelantar-kan, bukan me-nerlantar-kan. bukan begitu sobat?
6. Terong
sumpah sob.. yang ini bikin mimin  ngakak, bukannya apa .. kalo ingat cabe-cabean masa lawannya harus terung-terungan..? yang bener....
7. Hutang
hmmm.... kalo ini sih agak nyrempet apa gitu... "utang nyawa di bayar nyawa"
tapi jangan di tambahin "k" yah...


sumber: IDNtimes
Share:

Jumat, 21 Oktober 2016

Orator



Orator adalah orang yang mempunyai reputasi pandai berpidato dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan orasi adalah materi pidato yang di sampaikan. wikipedia

Ada lima elemen dasar yang harus di fahami oleh seorang orator. Biasanya di sebut dengan “ yang mengatakan apa untuk siapa

Yang

Komponen pertama adalah yang berorasi itu sendiri, dimana orator haruslah percaya diri dan menguasai materi yang akan di sampaikan.

Mengatakan

Tujuan berorasi antara lain adalah mengatakan ide, gagasan, ataupun pengenalan. Maka dari itu orator di haruskan menguasai banyak kosakata agar tidak menggunakan kata yang di ulang-ulang karena terlihat telalu monoton.

Orator yang baik adalah yang bisa merubah emosi pendengar, tidak hanya mendengarkan saja tapi ikut termotivasi oleh materi yang di sampaikan.

Apa

Topik apa yang  akan di sampaikan haruslah jelas, apakah kritik sosial, politik, atau budaya . sebaiknya gunakanlah materi yang mudah difahami audien.

Penguasaan topik materi adalah hal yang wajib bagi orator, sehingga audiens faham dan bisa mengerti apa yang di sampaikan dan bagaimana menindaklanjuti orasi tersebut.

Untuk

Agar memperoleh manfaat yang optimal, sebaiknya orator juga memahami tujuan atas orasinya tersebut.  Sehingga maksud dan tujuan sang orator mudah diterima.

Contohnya, ada orasi yang bertujuan untuk sosialisasi suatu program, ada yang bertujuan untuk mengajak orang membeli produk, atau orasi politik yang bertujuan agar audiens mendukung gagasan sang orator.

Siapa

Kepada siapa orasi itu disampaikan harus diperhatikan juga, mulai dari tingkat pendidikan atau latar belakang lainnya. Hal ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan nyambung dengan pemahaman audiens.


Sebagai contoh gampang adalah penggunaan bahasa. Ketika berorasi di depan para petani misalnya, maka janganlah menggunakan bahasa-bahasa kelas kampus yang tidak bisa di fahami mereka.

Nah sudah jelaskan apa itu orator?
semoga bermanfaat yah sobat tonapedia....


Share:

Rabu, 19 Oktober 2016

Pengertian Slametan

"Slametan diserap dari bahasa arab Salamah  yang mempunyai arti selamat atau damai." 
Slametan adalah tradisi yang dilakukan kebanyakan orang di pulau Jawa  sebagai ungkapan rasa syukur terhadap nikmat yang yang telah diterima. Terkadang juga ada yang dilakukan guna menangkal timbulnya perkara yang buruk. Slametan sangat identik dengan perayaan siklus kehidupan.

Slametan sangat populer disemua kalangan, baik yang taat beragama maupun tidak (abangan), yang berpangkat maupun rakyat jelata, baik kaya maupun miskin. Masyarakat umumnya menganggap bahwa kehidupan berkembang melalui tahapan-tahapan dari sebelum kelahiran sampai sesudah kematian. Semua tahapan dianggap penting karena merupakan hal yang sensitif. Karena semua tahap diluar kendali kekuasaan manusia, maka disarankanlah slametan dengan harapan semua berjalan lancar atau untuk merayakan setelah berhasil dalam melewati suatu tahap.

Slametan diserap dari bahasa arab Salamah  yang mempunyai arti selamat atau damai. Pada dasarnya tujuan slametan adalah sedekahan, dalam hal-hal tertentu diartikan doa. Jadi pada dasarnya tradisi ini sangat islami, karena islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa bersedekah dan berdoa, baik ketika akan menghadapi hal penting ataupun guna menangkal suatu musibah.

Seorang antropolog Clifford Geertz (1960) berpendapat agama penduduk jawa adalah islam dengan pemikiran yang mengadopsi perpaduan antara Hindu-Budha-Animisme. Slametan adalah kegiatan utama Ulama Abangan. Dirinya berpendapat slametan adaalah refleksi dari perpaduan antara Hindu-Budha-Animisme dalam Islam Jawa.

Slametan pada prakteknya terbagi menjadi beberapa macam ritual dengan nama yang berbeda namun tetap saja satu makna. Berikut ini adalah beberapa jenis slametan :

KEHAMILAN

Ketika slametan dilakukan dalam acara yang berhubungan dengan proses kehamilan misalnya, ada yang dinamakan slametan tebus weteng/tingkeban, adalah slametan yang diadakan ketika bayi berumur tujuh bulan dalam kandungan. Pada tahap ini diyakini bayi sudah dalam wujud sempurna dengan segala organ tubuhnya, juga bersih dari noda dan dosa. Dalam kondisi ini orangtua berharap agar semua proses persalinan berjalan lancar.

Setelah bayi lahir kemudian ada yang dinamakan bancakan yaitu slametan kecil-kecilan dengan nasi dan lauk seadanya kemudian dibagikan kepada tetangga terdekat untuk memberi tahu bahwa bayi baru saja lahir.

Setelah beberapa hari kemudian diadakan puputan dalam artian tali pusar sudah terlepas. Dalam tahap ini biasanya diadakan slametan pemberian nama bagi bayi, bagi yang mampu biasanya dibarengi dengan upacara akikahan.

Dewasa ini acara slametan puputan biasanya di selingi dengan pembacaan Maulid Nabi atau semacam Marhabanan. Ketika hadirin melantunkan Marhaban sambil berdiri, sang ayah atau biasanya kakek sang bayi membawa bayi berkeliling dalam majelis itu dan satu persatu menempelkan minyak wangi pada alis sang bayi.

KHITANAN /KAWINAN

Slametan dalam tahap ini biasa disebut dengan Walimahan. Walimahan sendiri diadopsi dari anjuran Syari’at dengan tujuan mengabarkan bahwa sifulan sudah dikhitan atau sifulan sudah menikah. Biasanya dilaksanakan setelah anak sudah di khitan atau kedua mempelai pengantin sudah melakukan ijab Kabul.

SETELAH KEMATIAN


Prosesi slametan pada tahap ini bisa dibilang lebih banyak dari pada tahap lainnya. Karena dalam tahap ini nanti ada yang dinamakan Nelung dina (tiga hari), Mitungdina (tujuh hari), Nyatus (seratus hari), Mendak pisan (setahun pertama), Mendak Pindo (setahun kedua), Mendak ping Telu (setahun ketiga). Kalau semua prose situ sudah dilaksanakan maka dianggap upacara telah sempurna. 

Nah, begitulah arti sebenarnya Slametan, ternyata secara bahasa sih ngga jauh-jauh dari ajaran agama Islam juga yah ...


Share:

Senin, 10 Oktober 2016

Memahami kata "Wali"



Makna  “wali” bagi sebagian orang pasti identik dengan orang sholeh yang dekat dengan Allah dan mempunyai segudang karomah yang  tidak dimiliki orang kebanyakan.

Namun dalam alqur’an kata “wali” mempunyai arti yang beragam, biasanya sesuai dengan konteks ayat yang di bahas. Keragaman arti tersebut mau tidak mau harus difahami secara menyeluruh agar maksud yang sesunggunya tidak bias.

Ahir-ahir ini publik tanah air sedang gencar mencari tahu makna dan kandungan QS. Al Maidah ayat 51 yang menyebut kata Awliya (jamak dari “wali”).  Dalam terjemah bahasa Indonesia kata “awliya” dalam ayat tersebut diartikan sebagai “Pemimpin”.

Hal inilah yang ahirnya menjadi perdebatan bagi kalangan politisi “islam” yang menolak salah satu kandidat calon gubernur DKI Jakarta yang kebetulan Non Muslim. Untuk mengetahui lebih jelasnya silahkan simak rangkuman berikut ini.

MENURUT KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA

Secara bahasa wali  bisa diartikan penjamin, pengurus, Pembina, kekasih atau seseorang yang memberikan pertolongan. kbbi

Wali Murid diartikan Orang yang menjamin anak untuk memperoleh pendidikan, baik segi administrasi maupun materi
Wali  bisa diartikan orang yang diberi tanggungjawab mengurusi harta anak yatim sampai dia dewasa
Wali Kelas diartikan sebagai Guru yang membina siswa dalam satu kelas.
Wali Allah diartikan sebagai Orang yang menjadi kekasih Allah.
Wali kota diartikan orang yang diberi tanggungjawab mengurusi masalah yang timbul pada masyarakat perkotaan

SECARA ETIMOLOGI

Dalam bahasa arab  wali bisa diartikan seseorang yang bisa dipercaya, seseorang yang dijadikan pelindung.
Kata wali berasal dari kata “al wilayah” yang berarti kekuasaan atau daerah. wikipedia

MENURUT AHLI TAFSIR

Prof. Quraish Shihab Dalam tafsir Al Misbah menjelaskan, bahwa  kata “awliya” yang merupakan jamak dari “wali” menunjukkan arti “orang yang paling dekat”. 

Misalkan Wali nikah adalah seseorang yang paling dekat dengan mempelai putri yaitu pihak orangtua, atau paman atau kakak lelaki, 

Walikota adalah seseorang yang “seharusnya” paling dekat dengan masyarakat kota sehingga mengetahui segala permasalahan yang dialami warganya. 

Wali murid adalah seseorang yang paling dekat dengan murid yang seharusnya mengetahui kendala yang dihadapi murid dalam belajar.

Pun jika diartikan pada kata “waliyullah”, jelas artinya mereka yang paling dekat dengan Allah sehingga mereka lebih mengetahui seluk beluk kekuasaan Allah.

Bisa juga diartikan penolong karena biasanya orang yang dimintai tolong pertama kali adalah orang yang paling dekat dengan kita.

Nah .. bagaimana Mas Mbak sudah tahukan keragaman makna dari kata “wali” tersebut ?
Eits.. masih ada yang kurang ternyata…


WALI BAND, rasanya kurang afdol kalau Band anak santri ini ngga ikut disebut, soalnya karya-karyanya cukup ngehits dan menghibur. Dan tentu sudah tahu kan…? 
Share:

Total Tayangan Halaman

Arsip blog

Diberdayakan oleh Blogger.